Entri Populer

Rabu, 30 Mei 2012

Psikolinguitik-Aural Oral


DASAR PSIKO-SOSIOLINGUISTIS DALAM PENDEKATAN AURAL ORAL (AUDIOLINGUAL)

A.     PENDAHULUAN
Pengajaran bahasa merupakan salah satu bentuk pengajaran yang memiliki cara yang berbeda dalam metode pengajarannya dibandingkan dengan bidang-bidang yang lain. Bahasa sebagaimana kita ketahui didapatkan oleh seseorang melalui dua hal, yaitu melalui perolehan dan melalui pembelajaran. Didapatkan melalui perolehan di sini artinya yakni di mana seseorang untuk pertama kalinya memperoleh bahasa (masih murni, belum memiliki bahasa) dalam penjelasan hal ini yang dimaksud yakni bayi atau balita. Sistem kehidupan inilah yang menyerap semua aspek-aspek tentang bahasa pertamanya dari orang tua, keluarga dan lingkungan sekitarnya tanpa harus belajar.
Untuk memperlancar kegiatan pengajaran bahasa diperlukanlah metode atau suatu rumusan sistem cara pengajaran karena metode pengajaran merupakan salah satu faktor yang berperan dalam pengajaran. Peran suatu metode sangatlah besar dalam suatu pengajaran dan bersangkutan juga dengan siswa yang menjadi objek pengajaran.
dalam makalah yang kami tulis ini, ruang lingkup kajiannya akan membahas mengenai pendekatan aural oral, atau yang disebut juga pendekatan audiolingual. Penulis lebih menekankan pada karakteristik pendekatan aural oral, kelemahan dan kelebihan dari pendekatan aural oral, dan dasar psiko-sosiolinguistisnya dalam pendekatan aural oral.



B.     PEMBAHASAN
1.      Pendekatan Aural-Oral
Approach (pendekatan) merupakan sekumpulan asumsi keyakinan aksiomatik, yaitu rencana menyeluruh yang berhubungan erat dengan penyajian materi pelajaran secara teratur dan tidak saling bertentangan. Pengertian approach disini sama dengan metode. Sesuai dengan namanya, metode aural-oral bersifat aural, yakni menimbulkan daya tangkap pelajar terhadap bahasa yang didengarnya dari ucapan orang lain dan memahami maksudnya. Sifat oral mengandung makna adanya kegiatan agar pelajar dapat menggunakan bahasa secara lisan dalam pergaulan.[1]
Tujuan pendekatan aural-oral dapat dicapai dengan baik dengan menggunakan teknik yang paling efektif, yakni latihan audiolingual atau latihan pola kalimat (pattern driil), yaitu latihan-latihan memperdengarkan berbagai bentuk pola kalimat secara sistematis. Metode ini sangat menguntungkan pengajaran bahasa arab melalui penerapan latihan pola-pola kalimat tersebut karena bahasa arab mempunyai pola-pola kalimat yang sudah sangat teratur. Latihan pola kalimat biasanya dipersiapkan terlebih dahulu dalam rekaman yang sudah diatur derajat kesukarannya. Tingkatan kesulitannya pun diatur sedemikian rupa agar sesuai dengan tingkat kemampuan pelajar. [2]
Rivers (1981) menjelaskan cirri-ciri utama pendekatan audiolingual itu dengan mengemukakan “lima slogan”, yakni:[3]
a.       Bahasa adalah ujaran, bukan tulisan
b.      Bahasa adalah seperangkat kebiasaan. Suatu perilaku akan menjadi kebiasaan apabila diulang berkali-kali. Oleh karena itu, pengajaran bahasa harus dilakukan dengan teknik pengulangan atau repetesi
c.       Ajarkanlah bahasa, bukan mengenai bahasa, pelajaran bahasa harus diisi dengan kegiatan berbahasa bukan kegiatan mempelajari kaidah-kaidah bahasa.
d.      Bahasa adalah apa yang dikatakan penutur asli
e.       Bahasa berbeda-beda dan beraneka ragam. Oleh karena itu pemilihan bahan ajar harus berbasis hasil analisis konstranstif, antara bahasa ibu pelajar dan bahasa target yang sedang dipelajarinya.
Metode audiolingual juga didasarkan atas teroi tata bahasa structural (TBS). Dalam teori ini, struktur tata bahasa dianggap sama dengan pola-pola kalimat. TBs berlawanan dengan teori bahasa tradisional (TBT) dalam hal berikut: 1) TBT menekankan kesemestaan tata bahasa sedangkan TBS menekankan fakta bahwa semua bahasa di dunia ini tidak sama strukturnya. 2) TBT bersifat perskriptif yang berpandangan  bahwa bahasa yang baik dan benar adalah yang dikatakan baik dan benar oleh para ahli tata bahasa. Sedangkan TBS bersifat deskriptif yang berpandangan bahwa bahasa yang baik dan benar adalah yang digunakan oleh penutur asli dan bukan apa yang dikatakan oleh ahlii bahasa. 3) TBT mengkaji bahasa dari ragam formal (ragam sastra dan sejenisnya), sedangkan TBS mengkaji bahasa dari ragam informal yang digunakan oleh penutur asli dalam interaksi sehari-hari.[4]
Karakteristik pendekatan audiolingual antara lain sebagai berikut:
a.       Tujuan pengajarannya adalah penguasaan empat ketrampilan berbahasa secara seimbang.
b.      Urutan penyajiannya adalah menyimak dan berbicara baru kemudian membaca dan menulis.
c.       Model kalimat bahasa asing diberikan dalam bentuk percakapan untuk dihafalkan.
d.      Penguasaan pola-pola kalimat dilakukan dengan latihan-latihan pola (pattern-practice). Latihan mengikuti urutan: stimulus > response > reinforcement.
e.       Kosakata dibatasi secara ketat dan selalu dihubungkan dengan konteks kalimat atau ungkapan, bukan sebagai kata-kata lepas yang berdiri sendiri.
f.        Pengajaran sistem bunyi secara sistematis agar dapat digunakan/dpraktekkan oelh pelajar, dengan teknik demonstrasi, peniruan, komparasi, kontras, dll.
g.       Pelajaran menulis merupakan representasi dari pelajaran berbicara, dalam arti pelajaran menulis terdiri dari pola kalimat dan kosakata yang sudah dipelajari secara lisan.
h.       Penerjemahan dihindari. Pemakaian bahasa ibu apabila sangat diperlukan untuk penjelasan, diperbolehkan secara terbatas.
i.         Gramatika (dalam atri ilmu) tidak diajarkan pada tahap permulaan. Apabila diperlukan pengajaran gramatika pada tahap tertentu hendaknya diajarkan secara induktif, dan secara bertahap dari yang mudah ke yang sukar.
j.        Pemilihan materi ditekankan pada unit dan pola yang menunjukkan adanya perbedaan structural antara bahasa asing yang diajarkan dan bahasa ibu pelajar. Demikian juga bentuk-bentuk kesalahan siswa yang sifatnya umum dan frekuensinya tinggi. Untuk itu diperlukan analisis konstranstif dan analisis kesalahan.
k.      Kemungkinan-kemungkinan terjadinya kesalahan siswa dalam memberikan response harus sungguh-sungguh diperhatikan.
Selain  karakteristik diatas, terdapat pula kelebihan dan kelemahan motode aural oral ini. Kekuatan dan kelemahan itu antara lain sebagai berikut:
Kekuatan:
-         para pelajar memliki ketrampilan pelafalan yang bagus.
-         Para pelajar terampil membuat pola-pola kalimat baku yang sudah dilatihkan.
-         Pelajar dapat melakukan komunikasi lisan dengan baik karena latihan menyimak dan berbicara yg intensif.
-         Suasana kelas hidup karena para pelajar tidak tinggal diam harus terus menerus merspon stimulus guru.
Kelemahan:
-         Pelajar mampu berkomunikasi dengan lancer hanya apabila kalimat yang digunakan telah dilatihkan sebelumnya di dalam kelas.
-         Makna kalimat yang diajarkan biasanya terlepas dari konteks, sehingga pelajar hanya memahami satu makna, padahal suatu kalimat atau ungkapan bisa mempunyai beberapa makna tergantung konteksnya.
-         Keaktifan mereka di kelas adalah keaktifan semu, karena mereka hanya merespon rangsangan guru.

2.      dasar psiko-sosiolinguistik dalam pendekatan aural oral.
Apabila melihat ke latar belakang pada tahun 1939 Universitas Michigan mengembangkan institute bahasa inggris pertama di amerika serikat, yang menghususkan diri dalam pelatihan guru-guru bahasa inggris sebagai bahasa asing dan salam pengajaran bahasa inggris sebagai bahasa kedua atau bahasa asing. Bahasa diajarkan dengan perhatian bersistem, terhadap ucapannya dan dengan latihan-latihan runtun yang intensif mengenai pola-pola kalimat dasarnya. Selain di universitas Michigan, di universitas-univeritas yg lain punseperti di Washington dc. Para pakar linguistik amerika serikat menjadi bertambah aktif, baik di amerika maupun di luar negeri dalam mengawasi program-program bagi pengajaran bahasa inggris.
Dalam berbagai hal, metodologi yang digunakan oleh pakar linguistik dan para ahli pengajaran bahasa amerika serikat pada periode ini agak bersamaan dengan oral approach Inggris. Pendekatan yang dikembangkan oleh universitas Michigan dan universitas lainnya itu menjadi terkenal dengan berbagai nama, oral approach, aural-oral approach, dan structural approach. Pendekatan ini menganjurkan pelatihan awal terlebih dahulu, kemudian pelatihan ucapan, diikuti oleh berbicara, membaca dan menulis. Bahasa diperkenalkan dengan ujaran, dan ujaran didekati melalui struktur.[5] Kalaupun ada suatu teori pembelajaran yang mendasari materi-materi aural-oral, maka hal itu merupakan suatu aplikasi gagasan yang dapat diterima oleh akal sehat bahwa “practice make perfect” bahwa latihan/prakteklah yang membuatnya sempurna. Tidak ada acuan eksplisit bagi teori pembelajaran mutahir ini dalam karya Fries. Justru gabungan dan kerjasama prinsip-prinsip linguistik pendekatan aural–oral dengan teroi pembelajaran pikologis yang mantap pada pertengahan tahun 1950-an yang membimbingnya kea rah suatu metode yang muncul dan dikenal dengan audiolingualisme. Dari sini jelas bahwa pendekatan aural-oral mempunyai dasar psiko-sosiolinguistis.



DAFTAR PUSTAKA

-         Ahmad Izzam, Metodologi Pembelajaran Bahasa Arab, Bandung; humaniora 2009
-         Henry Guntur Tarigan, Metodologi Pengajaran Bahasa 1, Bandung, angkasa 1991
-         Ahmad Fuad Effendi, Metodologi Pengajaran Bahasa Arab, Malang; Misykat 2009



[1] Ahmad izzam, metodologi pembelajaran bahasa arab, bandung; humaniora 2009 hlm. 84
[2] Ibid, hlm. 84
[3] Henry Guntur tarigan, metodologi pengajaran bahasa 1, angkasa, bandung 1991 hlm. 131
[4] Ahmad fuad effendi, metodologi pengajaran bahasa arab, malang; misykat 2009 hlm. 58
[5] Henry Guntur tarigan, metodologi…… hlm. 126-127

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar